Ruang Kreatif

English Class : Jebakan Kata-Kata Sulit & Suara yang Mendatangi Joe

Malam menunjukkan pukul 20.25 WITA, ketika kakak-kakak volunteer mengawali Mei dengan melepas penat di sekretariat GKM. Mereka baru saja tiba dari lokasi pengajaran rutin Minggu sore di Puulonggida. Tidak berapa lama setelahnya, suara riuh rendah memenuhi ruangan. Kak Asni, Kak Ical, Kak Ato, Kak Reni, Kak Amal, Kak Diman, Kak Helson, Kak Adi, Kak Nur, Kak Mamat, Kak Cici, Kak Kak Lian, dan Kak Asri tampak sedang membicarakan sesuatu dengan tampang serius. Rupanya, inilah isi obrolan yang sangat serius itu:

Joe, 25 tahun, adalah seorang salesman, yang baru saja selamat dari sebuah kecelakaan pesawat. Ia bertolak dari Toronto dan ingin melakukan penerbangan ke Vancouver untuk menjual pakaian. Saat berjalan ke Gate, ia mendengar sebuah bisikan, “Don’t get on that plane!”, sebanyak dua kali. Ia pun membatalkan penerbangannya, meski sudah memilii tiketnya. Joe lantas menumpangi pesawat lain. Tak lama, terdengarlah kabar bahwa pesawat yang hendak ditumpangi Joe sebelumnya, mengalami kecelakaan. Pesawat itu menabrak sebuah gunung dan menewaskan 121 orang.

Demikianlah kisah berbau supranatural, yang tidak lain adalah pengantar dari sesi English Class yang dibawakan oleh Kak Ayu untuk kakak-kakak volunteer malam itu. Kegiatan rutin Minggu malam yang biasa dilakukan oleh Divisi Volunteering ini, memang memiliki topik yang berbeda-beda di setiap minggunya.

Pada sesi kali ini, English class dimulai pukul delapan malam. Kakak-kakak volunteer membentuk sebuah lingkaran. Kak Ayu kemudian membagikan kertas kecil secara acak kepada setiap orang, di mana setiap kertasnya bertuliskan angka 2 hingga 5. Angka-angka itu sempat membuat beberapa kakak volunteer kebingungan. Rupanya, Kak Ayu sedang menyiapkan permainan yang bertajuk “Tongue Twisters”. Dan angka yang tertera pada carikan kecil kertas itu merupakan jumlah frekuensi pengulangan kata yang nantinya akan diucapakan oleh masing-masing orang. Permainan ini ditujukan untuk melatih cara pengucapan kata-kata tertentu. Sementara itu, Kak Ayu ternyata telah mempersiapkan kata-kata yang sulit, sehingga bisa membuat lidah terbelit ketika mengucapkannya. Kedengarannya, lebih mirip sebuah jebakan, ya.

Lupakan soal jebakan. Jadi, Kak Ayu telah menyiapkan enam rangkaian kata yang ditulis pada selembaran kertas kecil. Rangkaian kata-kata itu adalah: “Rubber Berber Gerber”,  “Red Lolly Yellow Lolly”, “Thin Sticks Thick Bricks”, “One Double Dozen Double”, “One-One Won One Race”, dan “Loyal Royal Lawyer”. Permainan ini cukup menegangkan, karena para pemain dituntut untuk mengucapkan rangkaian katanya dengan cepat agar terhindar dari hukuman. Meski begitu, permainan ini terasa sangat menyenangkan dan menghibur, karena mengundang gelak tawa seluruh pemain. Terlebih ketika salah seorang volunteer mengucapkan rangkaian katanya dengan tidak karuan. Kakak-kakak volunteer ini bisa terdengar seperti bayi yang baru belajar berbicara. Bagi pemain yang pengucapannya salah atau terlalu lambat, maka dikenai hukuman duduk jongkok. Kakak volunteer yang paling sering terkena hukuman adalah Kak Asni, Kak Asri, Kak Helson, dan Kak Adi. Wah-wah, belajar lagi ya, Kak.

Sesi English Class kemudian dilanjutkan dengan diskusi tentang kisah Joe, yang berjudul Flight 77. Setiap volunteer telah bersiap dengan lembaran cerita di tangan masing-masing. Mereka kemudian membacanya secara jamaah. Setiap volunteer dipersilakan memilih satu dari lima pendapat mengenai asal-usul bisikan yang didengar oleh Joe. Pertama, bisikan itu berasal dari ayah Joe yang telah meninggal dunia. Kedua, Joe memiliki indra keenam. Ketiga, bisikan itu hanya merupakan feeling belaka. Keempat, bisikan itu adalah suara Tuhan, dan terakhir, bisikan itu berasal dari malaikat.

Pendapat pertama tampaknya tidak menarik perhatian para volunteer untuk dipilih. Sebagian besar Kakak Volunteer memilih opsi ketiga, bahwa bisikan itu hanyalah feeling dari dalam diri Joe. Aktivitas membaca cerita seperti ini sangat membantu kakak-kakak volunteer untuk meningkatan kemampuan reading, menambah stok vocabularies (kosakata), dan melatih kemampuan speaking lewat mengemukakan pendapat.

English class pun diakhiri dengan pertanyaan: apa yang akan dilakukan oleh masing-masing volunteer jika memiliki kekuatan “know what’s going to happen in the future, read other people’s minds, see through things and move things without touching them”. Jawaban paling menarik adalah jawaban dari Kak Ahmad, Kak Asni, Kak Cici, dan Kak Reni, yang tidak ingin memiliki kekuatan mana pun dari sederetan pilihan itu. “I feel happy right now without any power, I want to live my life as usual person,” ucap Kak Ahmad. Cerita yang begitu seru itu pun nyaris membuat para volunteer lupa waktu.

Malam memekat, larut. Waktu menanjaki angka sepuluh. Rasa penat menyisakan senyum menggelitik dari kelas Bahasa Inggris yang baru saja usai. Tubuh-tubuh menuntut hak rehat. Puluhan kilometer di luar sana, adik-adik binaan GKM mungkin baru saja menutup buku-buku pelajaran, bangkit dari lampu-lampu kaleng bersumbu yang duduk di meja-meja darurat mereka. Di sini, kakak-kakak volunteer baru saja usai menunaikan salah satu wujud dari prinsip Never Stop Learning. Di mana pun, dalam situasi apa pun, siapa pun, butuh akan belajar. Mempelajari apa pun, tak pernah ada ruginya. Tak digunakan hari ini, mungkin saja besok diperlukan.

Salam hangat GKM, selalu.

Facebook Laju Digital : Wawasan baru untuk para volunteer GKM

Jadi kembali ke hastag paling atas, BELAJAR APA HARI INI? Belajar untuk meningkatkan fokus pengguna media sosial terhadap komunitas, lembaga masyarakat dan organisasi.

Puulonggida Merayakan 22 Desember [Ungkapan Cinta Sederhana, Untuk Mama]

Peran seorang Ibu dalam kehidupan kita sudah tidak bisa dipungkiri lagi dalam kehidupan ini. Bagaimana tidak seorang ibu dapat menjalankan fungsinya sekaligus baik sebagai istri, ibu, teman, kakak, dan sebagian lainnya juga mengabdkan dirinya pada bangsa ini mengisi sebagian ranah publik. Peran ini tentu saja bukanlah hal mudah.

MERAYAKAN HARI BUKU SEDUNIA

Suasana Museum Sulawesi Tenggara di 23 April sore itu terasa berbeda dari biasanya. Keramaian yang terbentuk di sana bukan ditujukan untuk menyaksikan jejak arkeologi khas museum seperti di hari-hari lain. Melainkan, untuk memperingati World Book Day yang, tahun ini, dirayakan dengan antusiasme yang sedikit istimewa.

Sore Pertama di Permulaan Tahun [Asyiknya Belajar Matematika]

Sabtu, pertama di tahun 2014 adalah pertemuan pertama Kendari Mengajar dengan adik-adik asuh di Puulonggida. Ini akan menjadi awal tahun ajaran Januari sampai Juli 2014. Sore itu, rintik hujan mengiringi perjalanan volunteer Kendari Mengajar menuju Puulonggida. Tepat pukul 15.30 WITA, volunteer pun tiba di Pulonggida.

GKM Menyambut Sumpah Pemuda Ke 88 melalui "Gerakan 1000 Seragam Sekolah"

Seperti ditahun-tahun terdahulu, di tahun 2016 ini, Gerakan Kendari Mengajar (GKM) kembali me-release Proyek Sosial Besar tahunannya. Menyongsong Peringatan Sumpah Pemuda ke- 88 tahun 2016, GKM kembali mengajak masyarakat bergotong royong berbagi kebaikan dalam sebuah gerakan yakni "GERAKAN SERIBU SERAGAM SEKOLAH : Satu Seragam, Untuk 1000 Kebaikan" atau GERAKAN SERASA .

Sepenggal Kisah Dari Mount Isa

Kisah ini baru saja dikirimkan oleh salah seorang volunteer GKM yang berada nun jauh disana, awalnya beliau menyatakan untuk tidak mempublikasikan kisah ini, namun kisah ini perlu dibagi kepada kawan-kawan sekalian. Semoga saja kisah ini kembali mengajak kita untuk bersejenak hening, kembali mengingat fitrah seorang relawan, makna menjadi seorang relawan, dan betapa bernilainya relawan di mata orang lain

Kenali Kota-mu! Dengan Brosur Buatan-mu Sendiri

Brosur selalu menjadi media sederhana untuk memperkenalkan suatu daerah, tempat-tempat pariwisata, hotel, dan lain sebagainya begitu pun Kota Kendari. Terinspirasi dari brosur yang sering di dapatkan ketika pameran, menyebabkan pengajar memilih brosur sebagai media pembelajaran untuk mata pelajaran pengetahuan umum.

PENGUMUMAN BERKAS OPEN RECRUITMEN VOLUNTEER BATCH 1

Setelah melalui verifikasi dokumen pendaftaran, kami dari Tim Seleksi Calon Volunteer Gerakan Kendari Mengajar memutuskan nama-nama yang terlampir pada dokumen berikut dinyatakan lulus ke tahapan seleksi berikutnya. Tahapan wawancara akan diadakan pada Sabtu, 21 April 2018 bertempat di sekretariat Gerakan Kendari Mengajar (Jalan Bunga Seroja No. 19, Kendari).