Catatan Pengajar

Mengapa Saya Memulai Perjalanan Ini ?

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Perkenalkan saya Salsabila wahyuni Hasan, yang biasa di panggil Nina. Saat ini saya sedang melanjutkan studi di Kota Kendari tepatnya Universitas Halu Oleo, Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur. Saat ini saya sedang aktif di salah satu organisasi luar kampus yaitu Gerakan Kendari Mengajar.  Alasan saya masuk ke Gerakan tersebut berlandaskan alasan yang sangat simpel, yakni untuk ‘Berbagi’. Pertama Kali saya bergabung yakni di suatu penanggalan di bulan Oktober,beberapa waktu setelah saya selesai mengikuti program KKN (Kuliah Kerja Nyata). KKN merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh Universitas sebagai salah satu program mata kuliah yang wajib diikuti oleh mahasiswa/i. Lewat pengalaman di program ini lah, lahir tekad kuat saya untuk terus ‘berbagi’ ke sesama.

Ini adalah secuil cerita kecil dari pengalaman yang saya alami. Saat itu lokasi KKN kami ditempatkan di luar Kota Kendari tepatnya di Kota Baubau, Kecamatan Sorawolio, Kelurahan Bugi. Lokasi kami, letaknya lumayan jauh dari pusat Kota (bisa di bilang, ujung Kota menuju perbatasan antara Kota Baubau dan Kabupaten Buton). Posko kami ditempatkan pada sebuah bangunan kecil bersama sebuah  keluarga sederhana (yang luar biasa baiknya) terdiri dari Kakek, Nenek, Bapak, Ibu dan 4 orang anaknya.

Sebagian besar program kerja kami disana bergerak dalam bidang pendidikan, pembangunan dan kesehatan. Di minggu pertama saat program Kerja kami berjalan, saya menemani teman KKN saya (yang berlatarbelakang jurusan Keguruan) mengunjungi beberapa sekolah. Dan terpilih lah SDN 2 Bugi sebagai sekolah sasaran untuk mengajar. Sekolah Dasar tersebut merupakan sekolah yang belum lama di bangun, dan baru saja menamatkan 1 angkatan. Saya pun mendapat kesempatan untuk pertama kalinya berbagi dalam bidang pendidikan. Sekolah tersebut tidak punya tenaga pengajar Bahasa Inggris (dulu ada, tapi gurunya pindah ke pusat kota). Jadi, saya menawarkan diri untuk coba mengisi posisi tersebut sebagai pengajar sementara.

Berdasarkan ingatan masa SD dan berbekal buku LKS Bahasa Inggris dari bapak kepala sekolah, saya membulatkan tekad untuk mengajar. Kesan awal pertama kali saya turun mengajar, yah jelas capek (hahaha) tapi bisa saya katakan sebagai ‘Capek yang Menyenangkan’ J. Meng-handle 3 kelas dengan jumlah murid yang tidak sedikit (20-30 murid per kelas) tentu bukan hal yang mudah. Saya mengisi pengajaran di sekolah tersebut pada minggu kedua sejak kami menetap dengan pertemuan sekitar 3-4 kali saja (berhubung waktu KKN hanya 45 hari). Jarak antar posko dengan sekolah kurang lebih hampir 2 kilo dan biasa kami tempuh dengan berjalan kaki (Kebayang kan, capeknya jalan kaki siang hari ditengah teriknya matahari pulang balik posko-sekolah..haha).

Sebagai mahasiswi Arsitektur (yang biasanya bergelut dengan dunia gambar dan bangunan), tentu ini menjadi pengalaman baru buat saya sendiri. Awalnya saya sangat kesusahan mengatur adik-adik (hehe namanya juga anak kecil lah yaa.. pasti terselip kata rewel, manja dan ‘Hiperaktif’ dalam tingkah laku mereka). Apalagi saya sama sekali tidak ada basic mengajar anak SD sebelumnya. Tetapi kemudian, ada satu hal yang buat saya terharu dan tetap bertahan untuk mau mengajar disana J. Pertama, anak-anak disana mempunyai ‘tekad’ dan kemauan yang sangat besar untuk belajar (I appreciated that). Karena pertemuan yang singkat, saya kadang menyediakan les bahasa inggris untuk adik-adik setempat.

Pada suatu hari saya berkata “Nanti kita ketemu disekolah pukul 4 sore yah. Kakak mau ajarkan satu lagu untuk kalian”. Dengan antusias nya adik-adik meng-iyakan ajakan saya. Di sore harinya saya datang agak telat, karena sedang membantu ibu posko.

Waktu sudah menunjukkan pukul stengah 5 lewat. Tapi, karena mengingat janji kepada adik-adik, saya tetap datang meski terlambat. Jalan menuju sekolah tidaklah dekat, kami harus melewati lapangan luas dan hutan-hutan untuk tiba kesana. Saya sempat berpikir, mungkin adik-adik sudah pada pulang karena bosan menunggu saya yang lama datang. Tetapi ketika saya tiba disekolah, saya melihat kumpulan adik-adik yang banyak (termasuk beberapa anak kelas 3). Dengan ekspresi yang tak terduga, merekapun berlari menghampiri saya. “Kakaakk… (teriak salah satu adik dari jauh) Kakak kenapa lama sekali datang, kak?” tanya salah satu adik. “Maaf, kakak tadi ada kerjaan di posko. Kalian dari jam berapa kumpul disini ?”. kita datang dari jam setengah 3 kak. Tapi ada juga yang datang jam 4”. Sejenak sayapun terdiam, rasa bersalah merambat ke sanubariku. Saya telah membuat adik-adik ini menunggu selama 2 jam lebih. Saya terharu, melihat tekad kuat anak-anak negeri yang berada dipelosok ini. Memasuki waktu maghrib, kami selesai dari belajar. Seperti biasa, kami pulang beramai-ramai. Bahkan ada adik yang sebenarnya mempunyai arah jalan pulang yang berbeda dengan kami, tetap memaksakan ikut pulang bersama meski harus melewati jalan berputar menuju rumahnya.

Kurang lebih sebulan sudah saya melewatkan waktu mengajar bersama adik-adik. 5 hari sebelum penjemputan pulang peserta KKN,  saya menyempatkan diri datang kesekolah untuk berpamitan bersama guru-guru dan adik-adik. Tentu bukan hanya saya yang merasa sedih, adik-adik pun merasakan hal yang sama dengan saya. Esok sorenya, adik-adik beramai-ramai datang ke posko kami. Saat itu, kami sedang sibuk-sibuknya di posko. Seminggu sebelum berangkat, kami sudah disibukkan dengan urusan laporan KKN. Mulai dari mengedit laporan, video KKN, tanda-tangan Kepala Desa, dan lain-lain. Adik-adik datang untuk menyapa kami. Saya dan 2 orang teman saya kemudian keluar menemui mereka, “Kakak, ada lagu yang ingin kita nyanyikan untuk kakak-kakak KKN” kata seorang adik. “Coba nyanyikan, kakak dengar”.

Mereka saling colek satu sama lain untuk menentukan siapa yang akan memulainya. Akhirnya, dengan ekspresi yang malu-malu, merekapun mulai bernyanyi dengan suara yang syahdu “Tetes air mata, basahi pipiku, disaat kita kan berpisah… Terucapkan janji, pada mu KKN…..(PS: lagu yang dimainkan adik-adik adalah salah satu lagu dari STINKY-MUNGKINKAH). Dipertengahan lagu, salah satu adik mulai meneteskan air mata. Kami sejenak terdiam (sedikit terharu sebenarnya). Spontan, sayapun segera memeluk adik yang menangis tersebut. “Kalau kakak pergi, nanti siapa yang ajar kita bahasa inggris lagi kak?”.  Dengan ucapan terbata dan sebuah senyuman saya berusaha menghibur mereka.

Tak usai sampai disitu, hal yang paling mengharukan terjadi setelah hari itu. Sekitar ba’da isya, posko kami di penuhi dengan adik-adik. Sehari sebelum keberangkatan, adik-adik beramai-ramai mendatangi posko kami malam-malam untuk membawakan kami hadiah. Untuk kesekian kalinya kami merasa terkejut pun juga Haru. Ketika kami turun, adik-adik secara bergantian memeluk kami. “Kakak jangan pergi… kita tidak belajar mi lagi bahasa inggris kalau kakak pergi” kata salah satu adik sambil terisak. Malam itu  merupakan malam terakhir kami di posko ( Ini mungkin sedikit lebay, tapi sungguh sangat mengharukan).

Tempat KKN kami merupakan salah satu desa yang masih memegang teguh adat Istiadat. Pukul 8 malam, jalan sepanjang desa sudah mulai sepi. Mereka bersusah payah,jalan di malam hari saling menjemput satu sama lain untuk beramai-ramai memberikan kami kado perpisahan di Posko. Dan hal manis yang paling berlesan adalah ‘hadiah’ dari mereka. Biskuit seharga lima ratusan hingga seribuan dibungkus rapi dengan kertas kado yang cantik diberikan kepada kami. Bahkan ada adik yang membungkus biskuit Gabin dengan sangat rapi . Bagi sebagian orang mungkin ini terdengar biasa saja. Tapi Bagi saya secara pribadi, melihat nilai dan kesungguhan dari adik-adik ini cukup untuk membuat meneteskan air mata haru.

Dari sini saya belajar, bahwasanya terkadang beberapa hal yang terlihat kecil bagi orang lain, belum tentu terlihat kecil pula untuk yang lainnya. Karena lewat niatan yang tulus, sesuatu yang terlihat kecil bisa saja bernilai sangat besar untuk  sebagian yang lain. Dan mungkin tak semua orang bisa merasakan hal ini. Maka beruntunglah bagi siapapun yang masih diberikan kesempatan untuk merasakannya, perasaan sederhana namun bermakna yang akan tersimpan sebagai pembelajaran indah yang tak kan lekang oleh waktu .

Lewat pengalaman ini, tekad saya untuk dapat terus berbagi semakin kuat mengakar di dalam hati, di dalam sanubari. Terima kasih ‘Gerakan Kendari Mengajar’ yang kemudian telah memberikan saya kesempatan untuk tetap dapat memupuk dan menyalurkan niatan sederhana ini,  untuk dapat terus berbagi kebaikkan ke sesama.

Kakak Volunteer Belajar Mendongeng Bersama Kak Heru

Senin 21 mei 2018, gkm memghadiri workshop dongeng "Read aloud" yang dibawakan oleh Kak Heru. Kak heru adalah Pendongeng Profesional yang mewakili Indonesia pada Festival Dongeng Anak di Korea Selatan tahun 2015. Pendiri Komunitas Rumah Dongeng Indonesia dan juga Trainer berbagai workshop dongeng untuk guru TK dan SD.

ENJ GKM : Ekspedisi Membangun Negeri dalam Sebuah Bingkai Pendidikan

kspedisi Nusantara Jaya (ENJ) adalah sebuah perjalanan yang digagas oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman yang bertujuan untuk meningkatkan wawasan kemaritiman dengan mengirimkan pemuda-pemudi nusantara  ke kawasan dan pulau-pulau terpencil di Indonesia. Melalui jalur peserta komunitas, Gerakan Kendari Mengajar (GKM) pun kemudian bertolak ke salah satu Pulau yang berada di Sulawesi Tenggara tersebut, tepatnya di Pulau Katela

Diary Gerakan Kendari Mengajar #8 : Mengasah Harmoni Dalam Melodi

Dengan bimbingan Kak Lita di stand Rumah Tukik kakak-kakak volunteer dengan serius berlatih memainkan lagu Ambilkan Bulan Bu selama 30 menit. Alunan nada “mi re do mi mi mi, mi re do fa fa fa, fa mi re mi sol sol, ....” kemudian terengar.Setelah berlatih dengan waktu yang tidak seberapa lama, saatnya para kakak-kakak volunteer akan unjuk kebolehan di panggung acara.

Kenali Kota-mu! Dengan Brosur Buatan-mu Sendiri

Brosur selalu menjadi media sederhana untuk memperkenalkan suatu daerah, tempat-tempat pariwisata, hotel, dan lain sebagainya begitu pun Kota Kendari. Terinspirasi dari brosur yang sering di dapatkan ketika pameran, menyebabkan pengajar memilih brosur sebagai media pembelajaran untuk mata pelajaran pengetahuan umum.

Pajangan kipas dari kertas

Di penanggalan 11 April 2018, adik-adik di daerah binaan BPK seru-seruan dengan membuat pajangan kipas dari kertas. Kipas kertas lipat adalah salah satu bentuk kreasi origami yang paling sederhana namun keindahan dan pesonanya bisa membuatnya menjadi hiasan atau detail pembungkus bingkisan yang indah. Nah kali ini adik-adik di daerah binaan BPK mengkreasikannya dengan gambar mereka. Caranya gampang kok.

Catatan Pengajar #6: Bahagia Itu, Sederhana

Pagi yang cerah, matahari bersinar menyambut sabtu, di penanggalan 26 April 2014. Seperti biasa, sabtu adalah hari dimana saya dan teman-teman yang tergabung sebagai volunteer pengajar di Gerakan Kendari Mengajar (GKM) akan kembali mengendarai kendaraan kami ke suatu desa yang letaknya cukup jauh dari pusat keramaian Kota Kendari, tepatnya ke SD N 20 Baruga, di Nanga-Nanga, Kecamatan Baruga.

Mengapa Saya Memulai Perjalanan Ini ?

Ini adalah secuil cerita kecil dari pengalaman yang saya alami. Saat itu lokasi KKN kami ditempatkan di luar Kota Kendari tepatnya di Kota Baubau, Kecamatan Sorawolio, Kelurahan Bugi. Lokasi kami, letaknya lumayan jauh dari pusat Kota (bisa di bilang, ujung Kota menuju perbatasan antara Kota Baubau dan Kabupaten Buton). Posko kami ditempatkan pada sebuah bangunan kecil bersama sebuah keluarga sederhana (yang luar biasa baiknya) terdiri dari Kakek, Nenek, Bapak, Ibu dan 4 orang anaknya.

PENGUMUMAN SELEKSI ONLINE RELAWAN PENGAJAR GKM BATCH 2

Setelah melalui verifikasi dokumen pendaftaran, kami dari Tim Seleksi Calon Relawan Pengajar Gerakan Kendari Mengajar Batch 2 memutuskan nama-nama yang terlampir dinyatakan lulus ke tahapan seleksi berikutnya. Wawancara tahap 1 akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 6 April 2019 bertempat di sekretariat Gerakan Kendari Mengajar (Jalan Bunga Seroja No. 19, Kemaraya, Kendari).